Setibanya di lapangan, Lala langsung membungkuk, mengatur alat-alat dan mulai meneliti jejak energi yang tersisa. Tatapannya tajam dan penuh konsentrasi, benar-benar berbeda dari biasanya. Kali ini, wajahnya menunjukkan keseriusan mutlak, seakan dunia di sekitarnya tak lagi ada.

"Kepala suku... apa kamu yakin Lala bisa membuka gerbang itu?" bisik Jelita sambil menatap ke arah Lala dengan raut cemas.

"Kita tidak punya pilihan lain. Hanya dia satu-satunya yang bisa kita andalkan." Jawaban Lynx lirih, matanya tak pernah beranjak dari sosok Lala. Dalam hatinya, ia menyimpan harapan yang besar. Detik-detik terasa seperti jam baginya.

Suara perut Isha tiba-tiba terdengar jelas, mengusik kesunyian. Anak itu mengelus perutnya yang lapar. Lynx tersenyum kecil, lalu mengeluarkan beberapa bungkus makanan ringan dari cincin penyimpanannya.

"Apa ini, kepala suku?" tanya Jelita sambil mengamati kemasan makanan dengan penasaran. "Bagaimana cara memakannya?"

"Kak Jelita, ini gampang kok," kata Isha sambil merobek bungkusnya. "Tinggal dibuka seperti ini, terus langsung dimakan. Di tempat Isha makanan begini biasa banget."

Jelita mengikuti langkah Isha, lalu menggigit isinya. Matanya langsung berbinar. "Enak banget. Tapi... kok nggak bikin kenyang ya."

Ia menoleh ke Lynx. "Kepala suku, dari mana kamu dapat makanan aneh tapi enak ini? Kenapa nggak pernah kamu kasih sebelumnya?"

Lynx menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum. "Waktu memindahkan para prajurit dari bangunan, aku melihat toko yang jual makanan seperti ini. Aku ambil semuanya dan masukin ke cincin penyimpanan."

"Jadi kamu mencurinya?" tanya Jelita sambil menyipitkan mata.

"Aku tinggalkan banyak keping emas di meja kasir. Lebih dari cukup kayaknya," jawab Lynx sambil tertawa kecil.

"Kak Lynx, Isha mau lagi!" rengek Isha sambil menarik bajunya.

"Aku juga..." ucap Jelita pelan, wajahnya merah menahan malu.

Lynx mengeluarkan beberapa makanan lain, dari coklat sampai roti isi. "Makan saja sepuasnya. Kita punya banyak."

Ia menggigit sepotong kue kering dan menghela napas. Rasa dan aroma itu mengingatkannya pada dunia asalnya. "Sudah lama aku nggak makan makanan instan kayak gini," gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba Lala muncul sambil membawa alat-alatnya dan langsung merebut coklat yang sedang dimakan Lynx. "Kalian asyik makan, nggak tahu ada cewek cantik kerja sendirian!" protesnya, lalu menggigit coklat itu dengan puas.

Lynx tidak mempermasalahkannya. Ia menatap Lala penuh harap. "Bagaimana hasilnya?"

Dengan mulut masih berlepotan coklat, Lala menjawab sambil duduk. "Aku menangkap frekuensi resonansi dimensi yang tersisa. Untungnya masih ada sisa jejak. Aku juga mengumpulkan data buat bikin peta tiga dimensi dari retakan-retakan ruang-waktu yang tertinggal di sini. Aku coba cari titik simpul paling stabil buat bikin jalur baru. Kalau berhasil, kita bisa ciptakan ulang jalur masuk dengan frekuensi autentik, berdasarkan matriks energinya."

Lynx dan Jelita saling menatap, lalu menoleh kembali ke Lala.

"Lala... bisa nggak kamu ngomong pakai bahasa manusia? Intinya gimana? Bisa kebuka atau nggak?" tanya Lynx polos, lalu menggaruk kepala seperti anak sekolah yang tak mengerti pelajaran.

Lala mendengus dan melipat tangan. "Percuma dijelasin. Intinya, aku yakin enam puluh persen ini bisa berhasil. Aku menggunakan cara membaca pola energi ini mirip dengan waktu aku cari jejak ayahku dulu."

"Enam puluh persen? Jadi masih bisa gagal?" Lynx menghela napas, ekspresinya agak kecewa.

"Jangan remehkan angka enam puluh persen, bocah. Itu angka yang besar," ucap Lala sok bijak, nada suaranya dibuat seperti orang tua. "Kalau laboratorium rahasia di markas Komandan Vex masih aktif, aku yakin kesempatannya bisa lebih besar lagi."

Lala menatap Lynx lekat-lekat. "Apakah kamu ada memiliki kunci dimensi yang asli?"

Lynx segera mengeluarkannya. "Ini dia. Tapi sudah rusak, tidak bisa digunakan lagi."

"Bagus. Justru ini bisa bantu memperbesar kemungkinan. Sekarang, aku butuh kertas formasi milikmu."

Lynx mengangguk dan menyerahkannya tanpa ragu. Ia juga menyeka noda coklat di bibir Lala dengan lembut.

Lala terdiam sesaat, wajahnya memerah. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Jelita yang melihatnya hanya bisa menatap dengan mata sempit, jelas-jelas merasa tidak suka.

Lynx kemudian membawa mereka ke tempat lebih aman dan membentuk formasi pelindung. Setelah memastikan segalanya siap, ia membuka portal menuju dunia kecil.

Begitu Lala dan Jelita melangkah masuk, mereka tertegun. Dunia itu terasa nyata seperti dunia biasa, namun energi spiritual di dalamnya terasa jauh lebih pekat dan murni. Di dekat tempat itu, berdiri sebuah bangunan besar, megah, namun bagian bawahnya dipenuhi bekas tanah yang sudah mengering, tanda bahwa bagian bawah bangunan itu sebelumnya terkubur.

"Lynx! Bangunan sebagus ini kenapa kamu perlakukan kayak gini?!" Lala mengerutkan kening, separuh marah.

"Aku buru-buru..." Lynx baru akan menjawab tapi Lala langsung memotong.

"Sudahlah, aku cuma bercanda. Aku akan segera mulai. Tapi... gimana caranya masuk ke dalam?" tanyanya sambil menatap bangunan itu.

"Isha, kamu masih ingat rumah kita kan? Ajak Kak Jelita ke sana. Kak Leena masih latihan, jadi belum bisa kamu temui." kata Lynx setelah merasakan posisi Leena. Dalam hati, ia cukup terkejut. Leena belum lama ditinggal, tapi kekuatannya sudah meningkat pesat.Isha dan Jelita segera meninggalkan Lynx dan Lala. Di sepanjang perjalanan, Jelita terus melirik ke belakang, pikirannya dipenuhi amarah dan rasa tak tenang. Ia menggenggam ujung bajunya erat-erat sambil bergumam dalam hati, "Kepala suku... aku tidak akan menyerah. Aku pasti akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya." Matanya menyala, menandakan kecemburuan yang semakin membakar.

Setelah keduanya cukup menjauh, Lynx menoleh ke arah Lala yang masih menatap bangunan di hadapan mereka.

"Apakah kamu tahu di bagian mana laboratoriumnya?" tanya Lynx dengan nada tenang.

Lala mengangguk sambil menunjuk ke satu arah di bagian bawah gedung. "Seharusnya terletak di bagian timur bawah. Ruang kontrol utama ada di belakangnya."

Tanpa menunggu lebih lama, Lynx meraih pinggang Lala dan membawanya masuk ke dalam bangunan. Tubuh mereka melayang cepat menembus lubang besar yang dulu dibuat Lynx agar Leena bisa mengevakuasi Lala dari tempat itu. Begitu mereka masuk, suara sirene keamanan langsung meraung keras. Lampu-lampu merah berkedip, dan sistem persenjataan otomatis segera aktif, menargetkan mereka dengan akurasi tinggi.

Namun Lynx tetap tenang, ia melepaskan sinar tipis tak kasat mata dari kedua matanya. Semua senjata otomatis langsung rusak, meleleh tanpa suara. Setiap pintu yang menghadang dihancurkan dengan mudah seolah pintu dari bahan khusus itu seperti kertas tipis. Tidak ada yang bisa menahan laju langkahnya.

Sesaat kemudian mereka tiba di ruangan yang dimaksud. Lala segera bergegas ke panel komputer, menyalakan sistem dan mulai mengetik cepat. Suaranya terdengar datar namun fokus. "Aku akan mengakses seluruh jaringan pengendali bangunan. Kalau sistem ini belum rusak, aku bisa aktifkan kembali seluruh fungsi laboratorium. Tunggu sebentar, Lynx. Aku tidak akan lama."

Lynx hanya mengangguk, lalu melangkah pelan mencari tempat untuk duduk. Ia bersandar di dinding, matanya tetap mengawasi sekeliling. Meskipun mereka berada di dunia kecil yang ia ciptakan sendiri, kewaspadaannya tidak pernah surut. Lynx menyadari, teknologi canggih dapat memberikan kejutan yang tidak di duga.

***

Sementara itu, jauh di tempat lain, tubuh Bai Wujian gemetar hebat. Ia sedang berhadapan dengan leluhur Monrest. Pil iblis sudah ia konsumsi, darahnya menggelegak, namun hasilnya masih tidak sebanding dengan lawannya.

Dia sudah menggunakan Jurus pamungkasnya berbentuk naga spiritual raksasa, namun jurus itu tak berdaya menghadapi lawannya. Bahkan yang tidak di duganya, lawan menyerap naga itu ke dalam tubuhnya dan membuat lawannya menjadi lebih kuat lagi. Tapi bukan hanya kekuatan luar biasa lelaki tua itu yang mengguncang Bai Wujian.

Yang membuat tubuhnya membeku adalah aura hitam keunguan yang tiba-tiba melingkari naga spiritualnya. Bai Wujian mengenali aura itu. Ia pernah merasakannya. Ratusan tahun yang lalu, ketika ia masih muda, ia pernah menyaksikan aura itu muncul dan membuat kehancuran di mana-mana yang di sebabkan oleh ketua Sekte Iblis dengan pedang iblisnya.

"Ini tidak mungkin, bagaimana bisa?" katanya dengan nada tidak percaya.

